Blog Cah Ganteng

Aku adalah anak yang mempunyai kepribadian pendiam.

Jumat, 15 Mei 2009

चिंता अदलाह

Diposting oleh ihan010582

Cintalah yang menjadi mata kita

Kekasih, aku tak pernah mengangka, tak pernah merencanakan bahwa aku mencintaimu. Aku tak perlu bertanya, apakah engkau memiliki cinta yang sekadar dengan cintaku. Aku juga tak mau bertanya, dari keluarga yang mana dirimu, kayakah, miskinkah? Seperti seloroh orang tua, “ Seperti cinta monyet saja “, maka sesuatu yang aku kenali sebagai cinta, muncul secara tiba – tiba didalam diriku, menyergapku, memelukmu, merasukimu, semua ini tanpa pernah kuasa aku tolak, aku pasrah, tetapi bukan tidak berdaya, aku menerima, tetapi bukan tanpa senang dan bahagia.

Cinta itu memasuki entah dari mana bagian dari diriku, tanpa permisi, tahu – tahu sudah berada didalam rumah diriku. Cinta itu kemudian menjadi jiwa. Dengan cinta yang menjadi jiwa, aku hidup dan dihidupi oleh cinta. Memang dengan cinta Tuhan menciptakan alam semesta dan manusia, memeliharanya, dan kepada-Nya semua dan segala ini akan pulang. Melalui cinta bapak dan ibu, maka lahirlah diriku, dirimu, diri manusia, yang dihidupi dengan restu cinta Tuhan kepada ciptaan-Nya. Dengan cinta pula, seluruh tumbuhan, bunga – bunga, batu – batu, matahari dan planet – planetnya, alam raya, mendzikirkan cinta kepada Tuhan sehingga tidak saling bertumbukan satu dengan yang lainnya, dan karenanya kiamat menjadi tak terduga, kecuali Allah maha tahu atas segala awal dan akhir itu.

Kekasih tidak ada cinta yang datangnya bukan dari Tuhan. Semua cinta pada mulanya dan akhirnya berujung keharibaan Tuhan. Hal itu sebab cinta bersemayam didalam jiwa, dan hanya yang menguasai jiwa sajalah yang mampu menumbuhkan. Sebab itu, aku dan dirimu tak kuasa menolak cinta dari-Nya.

Cinta antara lelaki dan perempuan, pada pemahamanku adalah bagian dari rencana Tuhan agar dirinya dikenali oleh ciptaan-Nya, oleh manusia. Sebab dengan begitu kehidupan manusia dimulai. Dengan cinta lelaki dan perempuan itu, dari jam ke jam kehidupan manusia akan diisi dengan nilai – nilai yang datangnya dari Tuhan; ataukah diisi yang datangnya dari jiwa yang tidak tenang yang bernama setan? Dengan cinta lelaki dan perempuan itu, manusia akan mengenali siapa diri ini, dari mana kita datang, apa yang akan kita perbuat dalam kurun hidup yang singkat yang tidak lebih dari seratus tahun ini, dan kemanakah kita akan pergi, kemanakah kita akan hidup setelah hidup didunia yang dibatasi oleh ruang dan waktu ini?

Dengan cinta, kita bangun tidur. Dengan cinta, kita memikirkan apa yang harus dilakukan didalam sehari semalam ini. Dengan cinta, kita tidur untuk bangun, ataukah berlanjut kematian.

Karenanya, kekasih, aku bersyukur oleh sebab cinta yang hidup didalam diriku, didalam aliran darahku, didalam udara yang masuk atau keluar dari nafas hidungku.

Aku mencintaimu, sebentuk makhluk perempuan yang berbeda dari diriku. Dari hidup dengan dirimu, lalu aku mengenal hidup, berpikir, berasa, berintuisi. Dari hidup dengan dirimu, lalu aku mengenal kenikmatan, keindahan, kelemahlembutan, dan semacamnya.

Dari mengenal dirimu juga, aku mengenal kekalutan, kecemburuan, kecemasan, tantangan, dan semacamnya. Dari mengenal dirimu pula, ternyata ada kejahatan, kesakitan, kesedihan, kemuakkan, kesombongan, dan semacamnya. Dari adamu, kekasih, aku mengenal bahwa aku ini lelaki, dan kau perempuan. Dari mengenal diriku ini, bersamaan itu aku mengenal dirimu, aku mengenal Tuhan, lalu hidup dengan keyakinan – keyakinan. Bagaimana aku akan terperosok didalam keputusasaan yang sangat apabila tanpa keyakinan – keyakinan itu? Karenanya kekasih, sekalipun silih berganti antara kepahitan dan kemanisan, kesedihan dan kebahagiaan, kemarin dan hari ini dan menjelang esok, maka kau, aku tetap hidup dengan keyakinan yang kokoh sekaligus indah. Itu semua disebabkan oleh cintamu yang dikucuri oleh cahaya cinta yang paling hakiki, yakni cinta Tuhan.

Tidak ada cinta apabila tidak dari Tuhan sebab semua cinta pastilah dari-Nya sebagaimana hidup ini dari-Nya. Cinta tiada lain adalah hidup itu sendiri; dan hidup, yang menghidupi tiada lain dan tiada bukan adalah Tuhan.

Tetapi kekasih, aku menjadi teringat pada bagian sajak “ Padamu juaAmir Hamzah, “Satu, kekasihku/ aku manusia/ rindu rasa/ rindu rupa”; manusia diberi segala sesuatu yang lengkap oleh Tuhan, melebihi makhluk – makhluk yang lain, diberi perasaan, pikiran dan intuisi, diberi hak – hak pribadi, yang oleh sebab itu manusia diberi kemerdekaan. Manusia kemudian memiliki kemerdekaan untuk menentukan dirinya sendiri sekalipun kalau saja Tuhan meminta kembali hak – hak-Nya, maka manusia tetaplah tidak berdaya. Justru karena Tuhan memberi kemerdekaan kepada manusia itulah, karenanya Tuhan Maha Adil, Maha Kasih, Maha Penyayang, dengan 99 nama yang mencerminkan sifat-Nya. Disaat manusia dengan potensi kemerdekaanya itulah kita sering kali lupa bahwa cinta sebermula adalah dari jiwa yang tenang ( nafs al – muthmainah ). Manusia lupa memaknai dan menempatkan cinta secara tepat sehingga jiwa yang gelisah ( nafs al – Lawwamah ), jiwa yang marah ( nafs al – amarah ) dan jiwa yang biologis ( nafs al - sufiyah ), yang lebih mengisi cintanya, dan karenaya, cinta disitu telah kehilangan hakikatnya sebagai cinta yang Ilahiyah sebagaiman fitrahnya. Disitu cinta menjadi bergeser dari peran – peran fitrahnya, yang mestinya menenangkan qalbu menjadi menggelisahkan, yang seharusnya membahagiakan menjadi amarah, yang pada hakikatnya suci memainkan peran – peran kemanusiaan sebagai makhluk bercinta dengan derajat cinta yang mulia menjadi sekedar gerakan tubuh didalam sex yang memuaskan dalam kesementaraan belaka.

Oleh sebab itu, cinta tidaklah sama dengan sex, sekalipun sex itu sendiri adalah bawaan kebutuhan dasar manusia untuk mengexpresikan diri di dalam kenikmatan, disamping sebagai sarana melanjutkan keturunan, tentu saja dengan begitu sex hanyalah bagian saja dari cinta. Tidak ada sex yang indah dan memabukkan sekaligus bermakna tanpa adanya perasaan, pikiran, dan intuisi yang bermuara kepada cinta. Kekasih, aku menjadi teringat kepada perkataan Erich Fromm didalam The Art Of Loving. Sekalipun filosof ini hidup dibarat, disebabkan ia berangkat dan kembali kepada hati nuraninya, maka ia pun sampai kepada kesimpulan bahwa “ kwalitas sex akan ditentukan oleh kwalitas cintanya.” Karenanya, ia menyatakan bahwa ” Cinta membutuhkan pengetahuan, dan perjuangan ”.

Tentu saja, cinta membutuhkan pengetahuan sebab bagaimana mungkin aku mencintaimu jika aku tidak mengetahuimu ? Dan, tentu saja cinta juga memerlukan perjuangan sebab untuk mengetahuimu, aku juga membutuhkn perjuangan – perjuangan , setidaknya siapakah namamu, dimana rumahmu, apa saja yang akan membuatmu sedih dan bahagia. Jadi, aku wajib mengetahuimu, mengenalmu, dengan begitu cinta kau - aku akan terus “ menjadi ”, setiap waktu, sesuai dengan perkembangan pengetahuanku tentang dirimu, tentang Tuhan yang menumbuhkan cinta kau – aku, terlebih mengenal tentang diriku sendiri.

Namun, kekasih, disebabkan oleh cinta pula, maka pengetahuan tentang segala sesuatu itu bisa bertambah, sebagaimana kata wanita sufi penyair terbesar, Rabi’ah al – Adawiyah.

Kita tidak sedang memperdebatkan, lebih dulu mana antara cinta dan pengetahuan. Bagi Erich Fromm yang sesungguhanya jauh hari sebelumnya sudah diungkap oleh Imam al – Ghazali didalam Ihya’ ‘ulumuddin, memang cinta selalu didahului oleh pengetahuan sebab bagi mereka,” tak kenal, maka tak sayang “. Tetapi bagi rabi’ah al – adawiyah kemudian Jalaluddin Rumi, cinta itu sendiri bisa menggiring manusia untuk cerdas, untuk mengetahui, dan semua itu berlangsung tanpa beban sebab sebagaimana kau, kekasih, telah mencurahkan cintamu kepadaku dan karenanya membukakan kesadaran kemanusiaanku untuk ini atau untuk itu demi menyenangkan hatimu, dan tanpa terasa aku telah didekap oleh pengetahuan – pengetahuan yang melingkungi kehidupan kita. “Aku cinta, maka aku ada “. “ Aku cinta maka aku berpengetahuan “.

Memang ada kalanya aku membutuhkan pengetahuan untuk mencintaimu, demikian sebaliknya. Karenanya kekasih, untuk pengetahuan itu, bacalah buku hatimu, bacalah buku lingkunganmu, bacalah buku alam semestamu dengan demikian kau akan menemukan dan dapat memaknai cinta. Sebagaimana aku berbahagia menulis tulisan ini untukmu, tidak seberapa jika dibandingkan dengan pencaharian pengetahuan dan pengalaman cinta yang sudah diselami oleh saudara kita, Sholeh UG, didalam risalah cintanya ini, maka bacalah agar kau – aku mengetahui bahwa Cinta itu berkah, bukan musibah.

Sungguh, aku mencemaskan pemikiran – pemikiran tentang cinta yang selama ini dihembuskan oleh bebearapa kawan, dengan memanfaatkan kesadaran arus balik kaum terpelajar terhadap perlaku budaya hari ini yang amat diwarnai oleh pencitraan kemakmuran tubuh, dan bukan sekaligus rohani. Tentu saja, hal ini saja kita menudingnya sebagai akibat kebijakan orde baru Soeharto bahwa kemakmuran adalah pembangunan, dan pembangunan adalah fisik sekalipun didalam penataran pedoman, penghayatan dan pengamalan Pancasila ( P4 ) selalu dikatakan “ Pembangunan Seutuhnya “, maksudnya jasmani dan rohani. Tetapi prakteknya pembangunan ini melulu jasmani, salah satu bukti dari itu masjid – masjid boleh dimegahkan dan dibanyakkan, namun pengisian dari makna masjid itu sendiri dilarang keras untuk dipengajiankan kepada umat.

Kesadaran arus balik – balik itu bergerak dari lingkungan kaum terpelajar, yang boleh jadi amatlah beragam latar belakang pendidikan keagamaan dari keluarganya, bahkan banyak yang semula kurang atau tidak ada pendidikan ilmu agama di dalam keluarganya. Perkembangan ini sebenarnya patut disyukuri. Dengan pengetahuan, memang, menggiring manusia untuk menemukan kembali “ dimensi yang hilang “ didalam kehidupan keberagamaan diantaranya ialah dimensi rasa keberagamaan ( religiositas ). Namun, disebabkan pengetahuan yang terlampau sedikit dan tanpa perbandingan itu, bisa mengakibatkan kepada pemahaman akan pengetahuan secara sempit, bahkan memunculkan radikalisme. Dalam konteks pemaknaan terhadap cinta sehingga cenderung apriori, bahkan menilainya sebagai berkubang didalam dosa. Hal ini disebabkan penempatan dan pemaknaan terhadap cinta secara sebagian saja, yang selalu berorentasi kepada sex. Karenanya tidak terlalu mengherankan kemudian memunculkan istilah parody, “ Pemekosa atas Nama Cinta “.

Disinilah kekasih, aku sepakat kepada imam Al – Ghazali, “ Cinta didahuli oleh pengetahuan.” Sekali lagi bacalah risalah cinta agar kau – aku menjadikan pengetahuan demi pengetahuan untuk menemukan cinta. Tidak sekadar sedikit dari pengetahuan melainkan sebanyak mungkin pengetahuan untuk menerima dan atau memaknai cinta dengan jiwa yang tenang yang tiada lain, yakni dengan cinta itu sendiri. Kemudian dengan menemukan ( inayah ) dari cinta, kau – aku akan mendapatkan anugerah ( hidayah ) yakni suatu keadaan dimana pengetahuan – pengatahuan ( ma’rifah ) itu menjadikan kita sebagai pencinta sejati, dan pengetahuan itu akan terus bertambah dengan izin Allah, sebagai mana yang diyakini oleh Rabi’ah al – Adawiyah dan Jallaruddin Rumi. Hidup didalam pengetahuan dan cinta menjadikan diri kau – aku menghadirkan, atau bahkan melebur didalam sifat – sifat Allah. Insya Allah, amiin.

Kalau sudah begitu cintalah yang menjadi mata kita untuk merenungi, lalu melakoni hidup didunia kita.

मेंकारी केतेंंगन जीवा

Diposting oleh ihan010582

सवेक्कू अदलाह सवेक पलंग क्रेवेत दरी सेमुआ सवेक यांग अदा दी दुनिया इनी। हहहः......?
सबब केनापा देमिकियन, करना केमनापुं अकू पेर्गी पस्ती दितान्यें दान दितेल्पों। अप कटा दुनिया.....
सेमाकिन हरी सेमाकिन लेबे जदिन्य। अकू हरुस बेर्बु़त अप उन्तुक मेंघदापिन्य?

Kamis, 14 Mei 2009

Sejarah Ihan

Diposting oleh ihan010582

By Ihan Hardiyanto,
Aku saat ini masih kuliah diperguruan tinggi swasta semarang, Hidupku selalu diatur atur oleh pacarku sendiri.
Mau kesini tidak boleh, mau kesana juga tidak boleh.
Pada akhirnya aku tumpahkan ruah unek2ku di blog ini